Cerita di Balik Nasib Santri yang Diisolasi (2)

Partomo, Sekretariat-PPA

Annuqayah.ID – Sejak awal keberangkatan rombongan menuju Annuqayah, M. Iqbal Rasyid tidak ikut merayakan balikan pondok dengan tertawa seperti teman-temanya yang serombongan. Dia memilih terlelap sepanjang perjalanan. Dalam benaknya selalu terngiang suasana pondok yang begitu-begitu saja. Dia sudah merasa tidak kerasan bahkan sejak sebelum berangkat.

Iqbal Rasyid adalah salah satu santri asal Banyuwangi yang setelah dilakukan rapid test menunjukkan reaktif. Sehingga dia dan berikut teman-temannya yang serombongan harus dikarantina di Ponkestren Annuqayah.

“Awalnya kami mengira bahwa protokol untuk membawa surat keterangan sehat atau hasil rapid test itu pilihan. Kami memilih membawa surat keterangan sehat saja. Soalnya biaya rapid test terbilang mahal,” tuturnya saat diminta berbagi pengalamannya oleh Annuqayah.ID

Ternayata setelah tiba, dia baru mengetahui bahwa protokol kedatangan santri menyebutkan harus menyertakan hasil rapid test untuk santri luar daerah Madura.

“Setelah tiba di Annuqayah, ternyata surat keterangan kami tertinggal di travel. Sementara travelnya sudah jauh. Namun setelah diminta, sopir travel itu pun mengantarkan kembali surat keterangan kami. Tapi kami tetap diminta melakukan rapid test,” lanjutnya.

Sekitar jam 9 pagi, Iqbal berikut keenam temannya dilakukan rapid test. Iqbal berada pada nomor urut kedua. Setelah beberapa jam menunggu, hasil rapid test-nya keluar. Sebelum petugas memberitahukan hasi tesnya kepada Iqbal, terlebih dahulu petugas mengintrogasinya.

“Di daerah Iqbal sudah ada yang terpapar virus korona. Apakah dari keluarga Iqbal ada yang memiliki gejala,” ucap Iqbal menirukan pertanyaan petugas yang mengintrogasinya.

Iqbal mengaku bahwa di daerahnya belum ada yang terpapar virus ini, tidak pula kasus dan desas-desus. Bahkan dia tergolong santri yang jarang keluar rumah.

“Kalaupun saya keluar rumah tetap sebagaimana protokol. Ya memakai masker dan jaga jarak. Itu pun jarang ke luar,” katanya.

Memang sejak keberangkatan, Iqbal sudah merasa tidak tenang akibat bayang-bayang aktivitas dalam pondok yang tidak seperti di rumah. Di pondok tidak bisa bebas keluar, tidak bebas bermain dan jalan-jalan.

“Mungkin karena rasa tidak kerasannya itu imun saya jadi lemah. Sehingga saat rapid test hasilnya reaktif,” ujarnya diselingi tawa khasnya.

Tiga hari setelah Iqbal dan keenam temannya dikarantina, Iqbal dilakukan swab test untuk memastikan apakah dia negatif atau posistif terpapar virus korona.

“Saya bersama seorang santri putri yang juga reaktif saat dilakukan rapid test waktu kembali ke pondok. Kami dijemput dengan mobil ambulan dari RS Moh Anwar Sumenep,” tutur Iqbal.

Setelah sampai di rumah sakit, Iqbal  langsung dibawa menuju tempat tes oleh petugas yang sudah menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap.

“Pertama saya diminta untuk berbaring lalu hidung saya dimasukkan alat seperti cotton bud. Alat itu dimasukkan hidung sangat dalam sekali. Sehingga saya merasa pusing,” lanjutnya.

Setelah itu, Iqbal diminta bangun kembali dan dilakukan tes yang kedua yaitu memasukkan alat untuk mendapat sampel lendir dari mulutnya.

“Alat yang kedua ini seperti stik es krim. Saya hampir muntah karena alat itu,” cerita Iqbal.

Setelah selesai melakukan swab test, Iqbal kembali lagi ke pondok untuk menunggu hasil tes keluar. Tepat pada tanggal 21 Juni hasil test swab-nya keluar.

“Alhamdulillah hasil tesnya negatif, sehingga saya bisa beraktivitas kembali,” lanjutnya penuh rasa syukur.

Dia berharap kepada santri dan wali santri untuk tidak terlalu khawatir dan terlalu berani. Sebab katanya virus ini tidak akan menimpa kecuali sudah takdir dari Allah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *