Cerita di Balik Nasib Santri yang Diisolasi (1)

Partomo, Sekretariat-PPA

Annuqayah.ID – Andre Mahrus Shaleh, salah satu santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Latee, sejak hari Selasa (9/6) tengah sibuk menghubungi teman-teman sepondoknya yang sama-sama berasal dari Banyuwangi. Beberapa helai baju, sarung dan peralatan lainnya sudah mulai dikemas dan dimasukkan ke dalam tas. Satu hari lagi, dia dan teman-temannya harus kembali ke pondok. Informasi yang dia dapatkan mengharuskannya kembali ke pondok sesuai waktu yang telah ditentukan. Untuk jenjang mahasiswa adalah hari Rabu dan untuk mahasiswi satu hari setelahnya, tepatnya hari Kamis.

Di pondok, Andre bergabung dengan komunitas El-Jawie, sebuah komunitas santri daerah Latee yang berasal dari Jawa. Mengingat mayoritas anggota El-Jawie terdiri dari santri asal daerah Jember sedangkan dia adalah santri yang berasal dari daerah Banyuwangi, dia lalu mencoba bertanya kepada salah satu anggota El-Jawie yang berasal dari Jember.

“Bisakah santri selain daerah Jember ikut rombongan El-Jawie?”

Kenyataan tak berpihak kepadanya dan teman-temannya yang sedaerah. Mereka harus rela tidak ikut rombongan. Sebab santri yang berasal dari  daerah Jember akan berangkat menggunakan biaya dari Pemkot Jember. Termasuk juga biaya rapid test, yang menjadi persyaratan balik santri asal daerah luar Madura. Dan biaya itu tidak akan diberikan bagi mereka yang bukan santri asal daerah Jember.

Selain tidak ikut rombongan El-Jawie, Andre dan teman-temannya harus mengeluarkan biaya tambahan, yaitu biaya rapid test. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan mereka memutuskan kembali ke pondok pesantren menggunakan rombongan sendiri, dan hanya akan membawa surat keterangan sehat. Bukan hasil rapid test sebagaimana protokol kedatangan santri asal luar daerah Madura. Biaya untuk melakukan rapid test terbilang cukup mahal.

Mulailah Andre dan teman-temannya yang berjumlah 7 orang mencari travel yang bisa mengantarkannya kembali ke pondok. Tepat pada hari Kamis bakda isyak, Andre dan keenam temannya berangkat dari Banyuwangi menuju Annuqayah.

Dalam rombongan kecil ini tidak hanya berisi santri-santri Annuqayah, tetapi juga santri Pondok pesantren Bata-Bata. Selain santri Bata-Bata, travel yang tujuan akhir adalah Annuqayah ini juga mengangkut tumpangan yang akan bekerja di luar daerah Banyuwangi.

“Kami berangkat tidak hanya dengan santri Annuqayah, tetapi ada santri Bata-Bata dan pekerja,” ucap Andre saat diwawancarai oleh Annuqayah.ID

Tepat pada jam 5 pagi, travel yang ditumpangi Andre dan teman-temanya tiba di Annuqayah. Mereka disambut oleh petugas satgas Covid-19 Pondok Pesantren Annuqayah. Setelah diminta untuk menyerahkan surat keterangan hasil rapid test, Andre dan teman-temannya hanya memberikan surat keterangan sehat biasa. Akhirnya mereka dibawa ke Ponkestren Annuqayah untuk dilakukan rapid test. Setelah hasil keluar, salah satu dari mereka dinyatakan reaktif. Jadilah mereka dikarantina di Ponkestren selama beberapa hari.

Kendati satu rombongan, santri yang hasil rapid test-nya reaktif tidak dikumpulkan dengan 6 temannya yang lain. Tapi mereka sama-sama dikarantina di Ponkestren.

“Kami diimbau untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengan santri yang reaktif,” lanjutnya.

Setelah tiga hari dikarantina, santri yang dinyatakan reaktif dilakukan tes swab untuk mengetahui apakah santri tersebut negatif atau positif terpapar virus Korona.

Hasil swab test menunjukkan bahwa teman Andre yang serombongan dengannya ternyata negatif. Perasaan lega dan bahagia sebab dari rombongan tersebut tidak ada yang terpapar virus Korona. Sehingga dia dan keenam temannya bias berkumpul kembali dengan teman-temannya di pondok dan bisa beraktivitas sebagaimana lazimnya para santri.

“Kami di sana (Ponkestren, Red.) makan secara gratis, tiga kali sehari. Saya mewakili teman-teman yang lain mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para masyaikh, pengurus pesantren dan segenap jajaran petugas satgas,” tuturnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *