Cerita Pengabdian Pekerja Bangunan Latee 1

Iro, Latee 1

Di balik megahnya bangunan Pondok Pesantren Annuqayah Latee 1, ada banyak pekerja yang mengabdikan diri tiada kenal lelah. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dari pagi hingga petang untuk menyukseskan pembangunan di PPA latee 1.

Dalam hal ini, bapak Ali Fikri (28), ketua tim, beserta anggota timnya: Gani (30), Mastur (32) dan Soheb (24) dipercaya pengasuh (KH. Abd. Basith Abdullah Sajjad BA) untuk melaksanakan pembangunan tersebut. Mereka juga dibantu oleh beberapa abdi dalem: Uud, Maqbur, Mursalin, dan Rizal.

Tim pekerja bangunan  yang sama-sama berasal dari daerah Brakas ini, mulai bekerja di PP Annuqayah Latee 1 sejak tahun 2015. Dalam empat tahun terakhir, bapak Ali mengaku sudah dapat menyelesaikan sekitar  sembilan bangunan, yang tidak hanya meliputi asrama santri, melainkan juga kantin pondok.

Sebagai pekerja tetap bangunan PP Annuqayah Latee 1, Ali Fikri tidak sungkan untuk mengkomunikasikan langsung kepada pengasuh terkait dengan properti bangunan yang dibutuhkan. Juga seputar rancangan bangunan ketika akan membangun lagi. Pada mulanya, ia menerima rancangan bangunan itu dari pengasuh. Dan nanti, akan sedikit diubah apabila bapak Ali Fikri menemukan sebuah keganjalan, tentu dengan persetujuan pengasuh terlebih dahulu.

Jam kerja mereka dimulai dari pagi hari sekitar pukul 07.30 sampai sore hari pukul 16.00 WIB.  Dan bapak Ali Fikir akan tiba di rumahnya sekitar pukul 16.30 WIB. Lalu ketika bahan bangunan tidak ada, bapak Ali bersama timnya, akan mengisi waktu dengan menyanggupi permintaan tolong tetangganya dalam hal pembangunan. Terkadang, jika pada siang harinya tidak ada waktu membantu tetangganya, Bapak Ali akan bekerja pada malam harinya.

Bagi bapak Ali Fikri, mengabdi menjadi hal yang diprioritaskan. Adapun gaji nomor dua.

“Kalau bekerja hanya menginginkan harta dan uang, tentu akan menjadi pekerja bangunan di luar (luar pesantren, red). Karena gaji kemungkinan lebih besar. Tapi karena pesantren bukan tempat sembarangan, maka yang didahulukan itu adalah nilai pengabdian),” tuturnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *