Literasi Digital Mendesak untuk Kalangan Pemuda

M Mushthafa, IST Annuqayah

Literasi digital saat ini sangatlah penting untuk diberikan kepada kalangan pemuda. Pasalnya, dunia internet tidak hanya memberikan dampak positif tapi juga berpotensi untuk menjerumuskan pemuda pada informasi sesat, penipuan, bahkan juga ekstremisme dan terorisme.

Inilah benang merah yang melatarbelakangi dilaksanakannya Training of Trainer (ToT) bertema “Pemuda, Internet Sehat, dan Anti-Ekstremisme” kerja sama The Lead Institute Universitas Paramadina Jakarta dengan Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah, sebagaimana disampaikan oleh ketua The Lead Institute, Dr. Phil. Suratno, M.A. dalam sambutannya di Ruang Pertemuan Instika, Senin, 13 Januari 2020.

“Pemuda atau remaja sangat rentan terpapar ekstremisme.  Secara psikologis remaja itu fase peralihan yang secara negatif dapat dimanfaatkan oleh pihak tertentu agar dapat bergabung dengan gerakan ekstremis-teroris,” kata Suratno.

Mohammad Hosnan, M.Pd., rektor IST Annuqayah yang juga mengikuti kegiatan ini pada salah satu sesi sempat mempertanyakan tentang isu ekstremisme-terorisme dengan konspirasi global. Oleh Suratno yang menjadi narasumber dijelaskan bahwa kegiatan ini tidak berfokus pada hal tersebut. “Itu di luar wilayah kewenangan kita. Itu wilayah otoritas politik. ToT ini fokusnya untuk mengantisipasi atau memperkecil ekses negatif dari ekstremisme-terorisme yang nyata di hadapan kita,” kata Suratno, yang menyelesaikan S-3 di Goethe-Universitȁt Frankfurt, Jerman.

Dari pihak IST Annuqayah, M. Mushthafa, selaku koordinator kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 20 orang yang terdiri dari dosen IST Annuqayah, pengurus Pondok Pesantren Annuqayah dan Yayasan Annuqayah, beberapa guru dan dan kepala sekolah, dan juga tokoh pemuda.

“Ini hanya kegiatan pembuka. Kegiatan intinya nanti adalah untuk kalangan siswa selaku generasi muda. Beberapa peserta ToT ini akan diajak terlibat dalam kegiatan untuk siswa dengan tema yang sama,” kata M. Mushthafa.

Narasumber kegiatan ToT ini semuanya dari Universitas Paramadina Jakarta, dengan menyajikan tema ekstremisme dan kekerasan, Islam dan anti-kekerasan, pemuda dan transformasi sosial, internet sehat, dan literasi media serta strategi kampanye. Para narasumber itu adalah Suratno, Zainul Maarif, Retno Hendrowati, Aan Rukmana, Tri Wahyuti, dan Emil Radhiansyah.

“Saya sangat berterima kasih dapat mengikuti kegiatan ini. Diskusi pada kegiatan ini mempertegas kesadaran saya bahwa kalangan muda harus benar-benar dibekali dengan melek internet agar terhindar dari ekses negatifnya, termasuk ekstremisme,” kata Zahratun Ni’am, salah satu peserta dari unsur aktivis IPPNU Guluk-Guluk.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *