PPA Lubangsa Utara Putri Lestarikan Budaya Literasi Melalui Pelatihan Kepenulisan

Sofiyatun, PPA Lubangsa Utara Putri

Annuqayah.ID  Pengurus Perpustakaan PPA Lubangsa Utara Putri merealisasikan kegiatan Pelatihan Kepenulisan yang rutin diadakan setiap tahun dengan format kegiatan berupa penyajian tentang materi kepenulisan yang dikhususkan untuk Kelas X MA Sederajat. Kegiatan yang diikuti oleh 21 peserta dilaksanakan selama empat hari, dimulai pada hari Rabu, 29 September dan berakhir pada hari Sabtu, 2 Oktober 2021 bertempat di musala PPA Lubangsa Utara Putri.

Kegiatan literasi memang sudah ada setiap harinya mulai dari membaca buku, menulis resensi dan diskusi. Santri PPA Lubangsa Utara Putri memang mempunyai target bacaan buku. Untuk siswa diwajibkan membaca buku sebanyak 30 buku dalam satu tahun dan untuk tingkat mahasiswa ditargetkan membaca minimal 40 buku dalam satu tahun yang dibuktikan dengan penulisan resensi, presentasi, dan juga diskusi buku.

Di samping kegiatan literasi yang ada di PPA Lubangsa Utara Putri, dirasa penting untuk lebih mendalami macam-macam tulisan dan bagaimana menulisnya. Membaca dan menulis adalah dua paket yang tidak bisa dipisahkan. Etika dalam membaca dan menulis juga penting sehingga diharapkan pelatihan ini bisa mewadahi para santri dalam dunia literasi.

Pada hari Rabu (29/9), setelah acara pembukaan diisi dengan penyajian teknik penulisan cerpen oleh Nyai Hana Al-Ithriyah. Dalam penyajian ini, beliau membina para peserta mulai dari penetuan tema, bagaimana membuat pembukaan yang memikat, menentukan ending, alur cerita, penokohan dalam cerita, latar, dan kemudian judul. Beliau juga menjelaskan sebuah cerpen yang baik adalah kombinasi dari realitas dan imajinasi. Cerpen adalah bagian dari karya sastra prosa.

Selanjutnya pada Rabu malam diisi dengan penyajian teknik penulisan PUEBI oleh Bapak Salman Syam. Pada materi ini, beliau menyampaikan bahwa belajar itu tidak hanya sekadar cukup, melainkan perlu untuk praktik. Dalam materi ini pula beliau membahas tentang kepenulisan mulai dari kepenulisan huruf kapital, hurif miring, huruf bercetak tebal, peletakan “di”, peletakan “pun”, peletakan kata ganti “ku”, “kamu”, “mu”, “nya”, tanda koma, dan elipsis.

Di samping itu, beliau juga memaparkan terkait peletakan “adalah”, “ialah”, dan “merupakan”, karena banyak yang kurang bisa memahami penggunaan kata “adalah”, “ialah”, dan “merupakan”.
“Kata ‘adalah’ merupakan kata kerja yang punya makna tersendiri. Kata ‘ialah’ merupakan kata penghubung kalimat yang satu dengan kalimat yang lain akan tetapi bermakna definisi. Kata ‘merupakan’ adalah kata kerja maknanya ada yang sama dengan kata adalah. Di samping itu, juga banyak kesalahan dalam kepulisan seperti halnya kata sekolah, kata sekolah adalah kata benda jika mengatakan ‘saya sekolah kurang tepat dan seharusnya ditulis saya bersekolah’,” jelas Bapak Salman.

Keesokan harinya, Kamis (30/9) pukul 13.30 WIB diisi dengan penyajian Teknik Penulisan Wawancara dan Penulisan Berita oleh Bapak Paisun. Dalam penulisan berita dipastikan bahwa berita yang dimuat adalah fakta. Proses pembuatan berita juga perlu sifat selektif karena tidak semua peristiwa disebut dengan berita. Penulisan berita diperlukan adanya observasi, pengamatan langsung, wawancara orang memenuhi unsur 5 W dan 1 H, serta diperlukan dokumentasi.

Pada sore harinya sekitar pukul 15.30, diisi dengan teknik penulisan puisi oleh Bpak Asy’ari Khatib. Beliau membahas tentang kriteria dari puisi yang bagus.

“Puisi adalak ekspresi dari pengalaman kita yang kemudian kita tafsirkan lewat struktur kata. Pengalaman yang bersifat faktual bisa berhubungan dengan alam. Penulisan puisi menjadikan apapun berdialog dengan kita dan kita bisa berdialog dengan apapun. Puisi yang bagus adalah puisi yang lahirnya dari kejujuran dan puisi itu bukan konsep tapi konkret,” papar beliau.

Kemudian pada Jumat (1/10), berlangsung penyajian tentang Teknik Penulisan Esai dan Resensi oleh Bapak Mahmudi, beliau membahas dengan lugas terkait perbedaan keduanya.

“Esai adalah sebuah karya ilmiah, bedanya dengan karya ilmiah yang lain esai bahasanya lebih sederhana, lugas, dan dapat dinikmati. Sedangkan opini penekanannya adalah pada pendapat penulis akan faktual. Resensi yang cukup familiar adalah resensi dalam bentuk tulisan, jarang kita mengatakan resensi itu ada yang berbentuk tulisan dan ada yang berbetuk diskusi. Dalam teknik penulisan resensi selain para pembaca menjadi penikmat buku pembaca juga diperlukan untuk menjadi pengamat,” jelas beliau.

Ada yang berbeda dari kegiatan pelatihan kepenulisan pada tahun ini. Pasalnya, pada hari Sabtu (2/10) panitia meminta kesudian KH M Afif Hasan untuk mengisi kegiatan yang sedang berlangsung. Pada kegiatan jurnalistik ini, beliau mengisi dengan tema Motivasi dalam Menulis. Beliau juga mengapresiasi adanya kegiatan ini.

“Saya sangat mengapresiasi pada kegiatan pelatihan kepenulisan ini, karena di PPA Lubangsa Utara Putra itu tidak ada,” dawuh beliau ketika penyajian.

Tindak lanjut dari pelatihan ini yaitu diadakannya mading setiap minggunya, diskusi buku setiap minggunya, lomba membuat koran mini yang ditulis tangan, lomba menulis resensi film, dan lomba majalah buku di setiap akhir tahun,” terang Lutfiyah Fitri Aulia selau Ketua Panitia dalam pelatihan kepenulisan ini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *