Silaturrahim Masyarakat dan Masyaikh Annuqayah: KH. Moh. Naqib Hasan Menekankan Pembauran Annuqayah dan Masyarakat

Ahmad Muhli Junaidi, Sekretariat-PPA

Acara dilangsungkan di rumah Bapak K. Hosnan, Patapan (2/3), merupakan putaran ke-7 dari paguyuban yang kemudian disingkat SIMA ini. Dimulai dari pembacaan tahlil bersama, dilanjutkan tausiah dan ramah-tamah masyarakat dengan para pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah. Pengasuh yang hadir dalam kesempatan tersebut antara lain; KH. Ahmad Hanif Hasan, KH. Muhammad Ali Fikri, KH. Mohammad Husnan A Nafi’, KH. Moh Naqib Hasan, K. Ahmad Khalid, K. M. Ubaidillah Tsabit. Ditambah beberapa lora, antara lain; K. Ahmad Hasan Tsabit, K. M. Nubail Hanif, K. Moh. Khatibul Umam, dan K. Ahmad Majdi Tsabit. Sedangkan masyarakat di seputar Pondok Pesantren Annuqayah yang hadir antara lain dari dusun Kemisan, Berca, Minomih, Guluk-Guluk Timur, dan Patapan, tidak kurang dari 50 orang jamaah.

Dalam sambutannya, KH. Ahmad Hanif Hasan mengharapkan agar masyarakat di sekitar Annuqayah selalu memberikan kritik konstruktif terkait dengan aktivitas pesantren. Baik aktifitas keagamaan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Demikian juga, Annuqayah akan selalu berusaha membangun masyarakat sekitarnya sesuai dengan visi dan misi yang telah menjadi pondasi pesantren, yang telah diletakkan oleh para masyaikh terdahulu.

“Ibarat sisa nasi di bibir, yang mengetahui ialah orang lain. Demikian juga, jika Annuqayah ada kerusakan, yang tahu terlebih dahulu orang di sekitarnya. Jika terjadi demikian, masyarakat tidak boleh segan memberikan kritiknya atau nasihatnya kepada para pengasuh. Makanya, Annuqayah berharap bahwa masyarakat sekitarnya merupakan pagar bagi pesantren, sebab Annuqayah ingin selalu menyatu dengan masyarakat,’’ ujar beliau.

Apa yang disampaikan oleh salah satu Dewan Pengasuh Annuqayah di atas, diamini oleh KH. Moh. Naqib Hasan selaku Ketua Pengurus PP Annuqayah. Dalam tausiahnya beliau menekankan bahwa Annuqayah selalu bersama masyarakat, lebih-lebih masyarakat di sekitar pesantren. Demikian pula, masyarakat harus selalu bersama pesantren agar timbul timbal balik yang baik antara keduanya. Simbol kebersamaan itu adalah Annuqayah tidak akan pernah membangun pagarnya tinggi-tinggi yang membuat santrinya hidup ekslusif. Tapi masyarakat pesantren (pengasuh dan para santri: Red.) selalu terbuka terhadap masyarakat sekitarnya agar dapat berinteraksi dengan cepat dan terbuka.

“Jika kita ingat Annuqayah Daerah Sabajarin dan Kebun Jeruk, misalnya. K. Husain dan K. Ashiem hidup hanya mengkhususkan berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Demikian pula K. Amir Ilyas, santrinya adalah masyarakat seputar Annuqayah ini. Makanya, K. Ashiem dan K. Amir tidak pernah berkenan menerima santri murni sebab sudah punya santri, yakni masyarakat itu sendiri, dan peran kemasyarakatan Annuqayah sejak pengasuh pertama, K. Syarqawi hingga kini, memang sangat diutamakan karena dari semula Annuqayah ada memang untuk masyarakat,’’ ujar KH. Naqib

Dalam membangun masyarakat, Annuqayah membentuk rantai dakwah yang padu dengan dan melalui masyarakatnya.

“Pesantren Patapan, yang juga leluhur kiai Annuqayah generasi kedua, pesantren Al-Is’af Kalabaan, pesantren Karay merupakan warisan pengasuh Annuqayah generasi pertama. Sampai saat ini, kurikulum di pesantren Kalabaan dan Karay, merupakan produk asli dari K. Syarqawi. Semuanya masih sangat dekat dengan Annuqayah,’’ lanjut beliau.

“Dalam perkembanganya, Annuqayah mengalami perubahan sesuai perubahan zaman. Dalam perubahan tersebut terkadang dapat dirasakan kurang baik oleh masyarakat. Misalnya, kurang peduli terhadap masyarakat sekitar. Untuk mengembalikan Annuqayah agar terus di atas rel masyaikh awal, diperlukan teguran dari masyarakat. Teguran atau kritik konstruktif ini bisa melalui acara-acara bersama seperti ini. Pengasuh menjadi lebih tahu, apa kekurangan Annuqayah yang perlu diperbaiki. Dan sebaliknya, apa yang perlu diberikan oleh Annuqayah kepada masyarakat agar senantiasa baik. Saya melihat, yang berkecimpung di kantor Annuqayah untuk membantu para masyaikh, masih diisi oleh orang-orang dari luar Guluk-Guluk. Jarang sekali tenaga SDM yang dari seputar Annuqayah ikut andil bagian dalam membangun Annuqayah agar lebih maju. Para Pengasuh menginginkan agar anak-anak muda di sekitar pesantren yang sudah sarjana dan ahli di bidang tertentu ikut membangun Annuqayah dari dalam,’’ pungkas beliau.

Dalam kesempatan ramah-tamah yang diisi tanya jawab atau pernyataan tambahan, para masyaikh membuka ruang dialog terkait masalah yang ada di masyarakat. Para koordinator pengajian, yang juga penggagas pertama mendirikan SIMA yang masih baru satu tahun ini, menghimbau jamaah pengajian agar dalam melaksanakan fardu kifayah (fardu kematian), khususnya terkait suguhan, harus benar-benar disederhanakan sedemikian rupa. Kalau perlu dengan cara pelan dan berkelanjutan, semua hidangan kepada pentahlil ditiadakan. Cara menyederhanakannya, ada usul menarik dari KH. Ahmad Hanif Hasan.

“Mulailah dari para perempuan yang melayat. Usahakanlah menolak jika tas kresek tempat berasnya diisi oleh tuan rumah dengan barang apapun,’’ ujarnya singkat.

Acara SIMA kemudian berakhir pukul 22.30 WIB. Dan akan dilanjutkan bulan depan di malam Selasa pon di rumah masyarakat yang lain.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *